Langsung ke konten utama

Di Mekah, IYL dan Maddusila Bermaafan

OLEH: ILHAM A SIRAJUDDIN, Mekah

LABBBAIK Allahumma labbaik labbaikala syarikalaka labbaik innal hamda wanni'matalak walmulkala syarikalak.

Perjalanan dari Madinah ke Mekah memakan waktu sekitar lima jam perjalanan, kami tempuh seluruh perjalanan lewat jalan bebas hambatan. Inilah hebatnya negara Saudi Arabia, memberikan fasilitas kepada warga dengan membangun jaringan jalan tol sebagai penghubung ke kota-kota besar tanpa dipungut bayaran sepeserpun.

Hampir semua pemandangan yang kita lihat hanyalah hamparan padang pasir yang gersang. tidak banyak aktivitas yang dilakukaan kecuali bertalbiah, berzikir, bertadarus. Ketika sampai Masjidilharam, kami langsung menuju hotel untuk menyimpan barang bawaan.

Satu keberkahan diberikan Allah SWT saat kami tiba di Hotel Hilton, Mekah. Secara tidak sengaja kami dipertemukan dengan Bapak Ichsan Yasin Limpo, Bupati Gowa, yang juga tengah menunaikan ibadah umrah. Momen ini tentunya kami manfaatkan dengan saling bermaaf-maafan sekaligus saling mendoakan. Beberapa hal kami perbincangkan. Termasuk kondisi kesehatan serta proses perjalanan hingga di Mekah ini. Silaturahmi yang berlangsung tanpa direncanakan ini terasa begitu istimewa dan berlangsung penuh kehangatan.

Hanya berselang beberapa saat, kami kembali merasa surprise karena melihat Bapak Maddusila tengah melintas di antara sejumlah jemaah lainnya yang bersiap ke Masjidilharam untuk melaksanakan ibadah umrah. Kami pun segera berpelukan dan saling menukar kabar.

Dalam hati kami berkata, pertemuan dengan dua tokoh penting di Kabupaten Gowa di waktu yang hampir bersamaan tentunya bukan kebetulan. Dan mungkin ini petunjuk dari Allah SWT untuk menjadikan tanah suci ini sebagai ajang untuk merekatkan kembali hubungan mereka yang sempat meregang akibat imbas dari pilkada yang lalu. Dalam sekejap, kami berdoa dalam hati semoga keduanya diberi hidayah dan dipertemukan di tanah haram ini sebagai momentum rukunnya kembali seluruh warga Kabupaten Gowa. Semoga saja Allah SWT meridhoi doa kami, Amin.

Usai pertemuan yang kami anggap monumental ini, selanjutnya kami menuju Masjidilharam. Melalui pintu Babusalam, akhirnya kami menyaksikan Kakbah (Baitullah) dari dekat. Tanpa terasa kami menitikkan air mata menyaksikan pemandangan yang ada didepan mata kami.

Setelah selesai tawaf, kami selanjutnya melaksanakan shalat dua rakaat di makam Ibrahim, yaitu tempat Nabi Ibrahim berada saat membangun Kakbah yang dibantu oleh Nabi Ismail.

Jumlah jemaah yang melaksanakan umrah terlihat tidak jauh beda saat musim haji. Bahkan mungkin lebih banyak lagi. Memang di bulan Ramadan ini, merupakan momen untuk meribadah karena amalan umrah Ramadan sama nilainya dengan ibadah haji. (*)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebohongan Yang Indah

Ketika pagi akan menjelang, rerumputan masih terbasahi embun yang memaksa mendinginkan udara pagi di kaki bukit Gunung Slamet. Embun pula yang meneteskan air di dedaunan pohon-pohon hijau. Ayam-ayam berkokok saling bersahutan menandakan kesibukan manusia akan segera dimulai, bagaikan opera alami yang natural. Sebelum bangun, mata ku selalu melirik ke arah jam dinding untuk memastikan benar-benar pagi telah layak untuk disambut. Setiap pagi sebelum azdan berkumandang selalu terdengar rintihan pintu rumah kayu kami ketika dibuka. Kreettt, Bapak membuka pintu sembari berteriak memanggil dan mengajaku untuk pergi bersama sholat berjamaah di mushola tak jauh dari rumah kami. “Royan, bergegaslah ke mushola, bapak tunggu!” “Iya pak, Royan segera menyusul” Sepulang ku dari mushola, aku langsung bergegas membantu ibu ku yang sedang sibuk memasak untuk keperluannya berjualan nasi di depan rumah kami. Ya, aku adalah anak seorang penjual nasi, hidup kami sederhana, tak...

Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung

WIRO SABLENG Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM SATU Dalam rimba belantara di kaki Gunung Labatu Hitam yang biasanya diselimuti kesunyian sekali ini terdengar suara aneh berkepanjangan. Seperti ada seseorang yang tengah mengucapkan atau merapal jampi-jampi tak berkeputusan. "Kau mendengar suara itu wahai tiga saudaraku?" bertanya sosok tinggi besar berewokan yang dua kakinya terbungkus batu besar berbentuk bola. Orang ini adalah Lakasipo, bekas Kepala negeri Latanahsilam yang kemudian dikenal dengan julukan Bola-Bola Iblis alias Hantu Kaki Batu. Seperti diceritakan dalam serial Wiro Sableng sebelumnya, berkat pertolongan Hantu Tangan Empat maka Wiro dan Naga Kuning serta si kakek berjuluk Setan Ngompol sosok tubuhnya berhasil dirubah menjadi lebih besar walau belum mencapai sebesar sosok orang-orang di Negeri Latanahsilam. Karena itulah jika sedang mengadakan perjalanan jauh Lakasipo selalu membawa ke t...

Pancake Buat Tuhan

Brandon bocah berumur 6 tahun. Suatu hari sabtu pagi, dimana biasanya orang tuanya tidak bekerja dan tidur sampai agak siang, Brandon menyiapkan sebuah kejutan. Ia berencana membuat pancake. Ia mengambil sebuah mangkuk besar, sendok, menggeser kursi ke pinggir meja, dan menarik sebuah tupperware berisi tepung yang berat, menumpahkan sebagian isinya ke lantai. Lalu ia mengambil tepung itu dengan tangannya, sebagian berserakan di meja makan, lalu mengaduknya dengan susu dan gula sehingga bekas adonan berceceran di sekelilingnya. Ditambah lagi dengan beberapa telapak kaki kucingnya yang ingin tahu apa yang sedang terjadi. Brandon tampak tertutup dengan tepung dan kelihatan sangat frustasi. Yang dia inginkan hanya membuat sesuatu untuk menyenangkan mama dan papanya. Tapi kelihatannya yang terjadi malah sangat amat buruk. Dia sekarang tidak tahu harus berbuat apa, apakah memasukkan adonan ke dalam oven atau dibakar di perapian. Lagipula dia tidak tahu cara menyalakan api di kompor atau ...