Langsung ke konten utama
Catatan Pribadi Jeritan Nurani Guru yang dicekik oleh Otonomi Daerah
Saya seorang Guru, yang saat ini merasa di cekik oleh aturan aturan yang berlaku di Depdiknas kab./ kotaku, saya mau membunuh, saya mau ngamuk, saya mau berontak, karena saya di cekik, dikebiri, oleh kemandan bos saya, kemandan bos mengatakan jangan kamu memungut, berupa apapun kepada siswa, sayapun mengikuti, saya di suruh membantu siswa yang sedang ujian nasional dengan memberikan kunci jawaban itupun saya ikuti, katanya ini perintah dari atasan, tetapi apa yang terjadi komandan bosku sangat cerdik, dia memugut dari guru dengan menjual baju dinas guru sertifikasi, dia juga mengambil alih penyelenggaraan ujian semester, dan dia juga melaksanakan Try out UAN, dan ada juga komandan bos tidak memberikan gaji ke 13 tidak tepat waktu, alias ditunda-tunda sampai saat ini belum terima gaji 13, tunjangan sertifikasi juga belum di bayar, ada juga komandan bos yang namanya Koordinator dana bos yang cerdik, menurut penuturan beberapa Bendahara Dana BOS, setiap Tri Wulan bila dana BOS Cair katanya dia harus menyetor muka dan mengisi Amplop di Koordinator Dana BOS , apa ini bukan Pungutan kemandan Bos, apa ini bukan Korupsi bapak-bapak yang ada di KPK, hai bapak KPK, apa hal semacam ini tidak dapat dikategorikan sebagai Korupsi, Haiiiiiiiii haiiiiiiiii haiiiiiiiiiiii bapak-bapak komandan bos sadarlah bapak akan mati jangan terlalu seraka, terakhir saya catat di lembaran ini, saya memintah kepada komandan bos yang ada di pusat, yakni Bapak Presiden dan Jajaran Kabinetnya, dan Komandan Bos yang ada di DPR, MPR, agar Depdiknas dikembalikan ke Pusat seperti Dahulu kalah.



                                                                                                       GURU UMAR BAKRI 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebohongan Yang Indah

Ketika pagi akan menjelang, rerumputan masih terbasahi embun yang memaksa mendinginkan udara pagi di kaki bukit Gunung Slamet. Embun pula yang meneteskan air di dedaunan pohon-pohon hijau. Ayam-ayam berkokok saling bersahutan menandakan kesibukan manusia akan segera dimulai, bagaikan opera alami yang natural. Sebelum bangun, mata ku selalu melirik ke arah jam dinding untuk memastikan benar-benar pagi telah layak untuk disambut. Setiap pagi sebelum azdan berkumandang selalu terdengar rintihan pintu rumah kayu kami ketika dibuka. Kreettt, Bapak membuka pintu sembari berteriak memanggil dan mengajaku untuk pergi bersama sholat berjamaah di mushola tak jauh dari rumah kami. “Royan, bergegaslah ke mushola, bapak tunggu!” “Iya pak, Royan segera menyusul” Sepulang ku dari mushola, aku langsung bergegas membantu ibu ku yang sedang sibuk memasak untuk keperluannya berjualan nasi di depan rumah kami. Ya, aku adalah anak seorang penjual nasi, hidup kami sederhana, tak...

Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung

WIRO SABLENG Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM SATU Dalam rimba belantara di kaki Gunung Labatu Hitam yang biasanya diselimuti kesunyian sekali ini terdengar suara aneh berkepanjangan. Seperti ada seseorang yang tengah mengucapkan atau merapal jampi-jampi tak berkeputusan. "Kau mendengar suara itu wahai tiga saudaraku?" bertanya sosok tinggi besar berewokan yang dua kakinya terbungkus batu besar berbentuk bola. Orang ini adalah Lakasipo, bekas Kepala negeri Latanahsilam yang kemudian dikenal dengan julukan Bola-Bola Iblis alias Hantu Kaki Batu. Seperti diceritakan dalam serial Wiro Sableng sebelumnya, berkat pertolongan Hantu Tangan Empat maka Wiro dan Naga Kuning serta si kakek berjuluk Setan Ngompol sosok tubuhnya berhasil dirubah menjadi lebih besar walau belum mencapai sebesar sosok orang-orang di Negeri Latanahsilam. Karena itulah jika sedang mengadakan perjalanan jauh Lakasipo selalu membawa ke t...

Pancake Buat Tuhan

Brandon bocah berumur 6 tahun. Suatu hari sabtu pagi, dimana biasanya orang tuanya tidak bekerja dan tidur sampai agak siang, Brandon menyiapkan sebuah kejutan. Ia berencana membuat pancake. Ia mengambil sebuah mangkuk besar, sendok, menggeser kursi ke pinggir meja, dan menarik sebuah tupperware berisi tepung yang berat, menumpahkan sebagian isinya ke lantai. Lalu ia mengambil tepung itu dengan tangannya, sebagian berserakan di meja makan, lalu mengaduknya dengan susu dan gula sehingga bekas adonan berceceran di sekelilingnya. Ditambah lagi dengan beberapa telapak kaki kucingnya yang ingin tahu apa yang sedang terjadi. Brandon tampak tertutup dengan tepung dan kelihatan sangat frustasi. Yang dia inginkan hanya membuat sesuatu untuk menyenangkan mama dan papanya. Tapi kelihatannya yang terjadi malah sangat amat buruk. Dia sekarang tidak tahu harus berbuat apa, apakah memasukkan adonan ke dalam oven atau dibakar di perapian. Lagipula dia tidak tahu cara menyalakan api di kompor atau ...