Langsung ke konten utama

Media Indonesia - Dewi Yasin Limpo Siap Buka Bukaan di Panja Mafia Pemilu

Kasus Pemalsuan Surat MK
Dewi Yasin Limpo Siap
Buka-Bukaan di Panja Mafia Pemilu
Penulis : Tori Natalova
Jumat, 24 Juni 2011 11:41 JAKARTA--MICOM: Pasca dibeberkannya hasil penyelidikan investigasi oleh Mahkamah Konstitusi, nama Dewi Yasin Limpo disebut-sebut terlibat dalam kasus pemalsuan surat MK.
Dewi yang gagal menduduki kursi anggota legislatif tersebut mengatakan
bahwa dirinya sudah menjadi korban dari kasus tersebut.

"Saya ini sudah jadi korban," tuturnya saat dihubungi wartawan, Jumat, (24/6).

Ketua DPP Bidang Litbang Partai Hanura tersebut pun menyatakan
siap dipanggil Panja Mafia Pemilu di Komisi II DPR. Dewi juga
akan membeberkan dan akan memberi kejutan saat memberikan
keterangan di Panja yang rencananya akan memanggilnya pekan depan.

"Tunggulah di Panja," tuturnya.

Menurut keterangan Sekjen MK Djanedri M Gaffar dalam rapat
Panja Mafia Pemilu Selasa, (21/6), ada keterlibatan Dewi
Yasin Limpo dan orang dalam yaitu mantan Hakim MK Arsyad
Sanusi dan Juru Panggil MK Masyhuri Hasan dalam pemalsuan
surat palsu tersebut. Dewi mengaku mengenal Arsyad sejak
dirinya belum menikah.

"Saya sudah sering dengan beliau, jangankan sekarang,
sejak masih belum nikah sudah pernah, bukan karena
urusan MK," ujarnya.

Sementara itu, terkait penjelasan Sekjen MK tentang keberadaan
Dewi di apartemen Arsyad dan di gedung
MK pada tanggal 16-17 Agustus 2009, Dewi enggan
menanggapinya dan akan memberikan semua hal kepada Panja.

Dari hasil penyelidikan yang dilakukan MK, Dewi Yasin Limpo
diketahui berada di apartemen Arsyad pada tanggal 16 Agustus 2009.
Malam harinya, Dewi juga mendatangi rumah panitera MK Zainal
Arifin Husein. Pada tanggal 17 Agustus 2009, Dewi berada
di sekitar gedung MK. Kemudian, di parkiran KPU (Komisi
Pemilihan Umum), Dewi dengan bantuan Arsyad Sanusi memaksa
Hasan (juru panggil MK) untuk memperlihatkan isi surat MK.
(*/OL-3


MK Yakin Polri Ungkap Kasus

Pemalsuan Dokumen
Penulis : Rita Ayuningtyas
Jumat, 24 Juni 2011 13:11 WIB      JAKARTA--MICOM: 
Mahkamah Konstitusi (MK) yakin Polri mampu mengungkap kasus pemalsuan
dokumen yang dikeluarkan MK pada pemilihan umum (pemilu) pada 2009
lalu terkait keberhasilan anggota Partai Hanura Sulawesi Selatan
Dewi Yasin Limpo menduduki kursi DPR, meski belakangan dibatalkan.
Mahkamah tersebut yakin Polri bekerja tanpa intervensi mana pun.
Kasus yang menyeret nama Andi Nurpati sebagai terlapor itu sarat
akan kepentingan politik. "Saya yakin polisi sangat profesional.
Kenapa kami tidak yakin?" ujar Sekretaris Jenderal MK Janedjri M Gaffar,
usai berkoordinasi dengan Badan Reserse Kriminal Polri,
Jakarta, Jumat (24/6).
Menurut dia, hasil koordinasinya dengan Bareskrim menunjukkan
Polri bekerja secara proporsional dan profesional. Dia juga
memaklumi jika pengungkapan kasus ini berjalan tak secepat
yang diharapkan masyarakat. Polri perlu waktu untuk mengungkapnya
secara tuntas.
"Makanya, kami harus menghargai kepolisian yang sudah bekerja
secara proporsional. Percayakan sepenuhnya kepada Bareskrim,"kata dia.
Selain berkoordinasi, apakah kedatangan Janedjri ini untuk
membuat laporan polisi? Namun, dia enggan menjawabnya.
"Semua sudah kami sampaikan ke Bareskrim," lanjutnya. (Bob/OL-11)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebohongan Yang Indah

Ketika pagi akan menjelang, rerumputan masih terbasahi embun yang memaksa mendinginkan udara pagi di kaki bukit Gunung Slamet. Embun pula yang meneteskan air di dedaunan pohon-pohon hijau. Ayam-ayam berkokok saling bersahutan menandakan kesibukan manusia akan segera dimulai, bagaikan opera alami yang natural. Sebelum bangun, mata ku selalu melirik ke arah jam dinding untuk memastikan benar-benar pagi telah layak untuk disambut. Setiap pagi sebelum azdan berkumandang selalu terdengar rintihan pintu rumah kayu kami ketika dibuka. Kreettt, Bapak membuka pintu sembari berteriak memanggil dan mengajaku untuk pergi bersama sholat berjamaah di mushola tak jauh dari rumah kami. “Royan, bergegaslah ke mushola, bapak tunggu!” “Iya pak, Royan segera menyusul” Sepulang ku dari mushola, aku langsung bergegas membantu ibu ku yang sedang sibuk memasak untuk keperluannya berjualan nasi di depan rumah kami. Ya, aku adalah anak seorang penjual nasi, hidup kami sederhana, tak...

Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung

WIRO SABLENG Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM SATU Dalam rimba belantara di kaki Gunung Labatu Hitam yang biasanya diselimuti kesunyian sekali ini terdengar suara aneh berkepanjangan. Seperti ada seseorang yang tengah mengucapkan atau merapal jampi-jampi tak berkeputusan. "Kau mendengar suara itu wahai tiga saudaraku?" bertanya sosok tinggi besar berewokan yang dua kakinya terbungkus batu besar berbentuk bola. Orang ini adalah Lakasipo, bekas Kepala negeri Latanahsilam yang kemudian dikenal dengan julukan Bola-Bola Iblis alias Hantu Kaki Batu. Seperti diceritakan dalam serial Wiro Sableng sebelumnya, berkat pertolongan Hantu Tangan Empat maka Wiro dan Naga Kuning serta si kakek berjuluk Setan Ngompol sosok tubuhnya berhasil dirubah menjadi lebih besar walau belum mencapai sebesar sosok orang-orang di Negeri Latanahsilam. Karena itulah jika sedang mengadakan perjalanan jauh Lakasipo selalu membawa ke t...

Pancake Buat Tuhan

Brandon bocah berumur 6 tahun. Suatu hari sabtu pagi, dimana biasanya orang tuanya tidak bekerja dan tidur sampai agak siang, Brandon menyiapkan sebuah kejutan. Ia berencana membuat pancake. Ia mengambil sebuah mangkuk besar, sendok, menggeser kursi ke pinggir meja, dan menarik sebuah tupperware berisi tepung yang berat, menumpahkan sebagian isinya ke lantai. Lalu ia mengambil tepung itu dengan tangannya, sebagian berserakan di meja makan, lalu mengaduknya dengan susu dan gula sehingga bekas adonan berceceran di sekelilingnya. Ditambah lagi dengan beberapa telapak kaki kucingnya yang ingin tahu apa yang sedang terjadi. Brandon tampak tertutup dengan tepung dan kelihatan sangat frustasi. Yang dia inginkan hanya membuat sesuatu untuk menyenangkan mama dan papanya. Tapi kelihatannya yang terjadi malah sangat amat buruk. Dia sekarang tidak tahu harus berbuat apa, apakah memasukkan adonan ke dalam oven atau dibakar di perapian. Lagipula dia tidak tahu cara menyalakan api di kompor atau ...