Langsung ke konten utama

Meneladani Nabi SAW dalam Kasus Xenia Maut




Terlepas dari kontroversi diperbolehkan atau tidak dalam Islam, kini peringatan yang jatuh setiap tanggal 12 Rabiul Awal itu terasa jauh dari kesan Islami, misalnya diiringi oleh gamelan Sekaten di Cirebon dan pembacaan syair Barzanji.

Selain itu, maulid Nabi acapkali dirayakan malam hari dengan berbagai macam kegiatan perayaan. Momen seperti ini seringkali dimanfaatkan oleh muda-mudi untuk berkumpul hingga larut malam.

Ironis

Maulid Nabi ini seharusnya diperingati dengan merenungkan kembali keteladanan Rasulullah saw semasa hidupnya, bukan dirayakan dengan hal semacam itu.

Berbicara mengenai keteladanan, keteladanan Nabi saw. yang paripurna sebagai pribadi, pemimpin keluarga dan juga pemimpin negara, ternyata senantiasa relevan kita adopsi untuk menjawab segala tantangan dan problematika yang kita hadapi, contohnya dalam hal mewujudkan rasa keadilan pada insiden Xenia maut di dekat Tugu Tani Jakarta.

Awalnya, pengemudi Xenia maut itu hanya diancam hukuman 6 tahun berdasarkan pasal 310 UU No 22/2009. Tentu saja itu dinilai tidak adil oleh publik.

Solusinya akan sangat jelas jika merujuk pada tuntunan yang dibawa oleh Nabi saw yakni aturan Islam. Pertama, untuk kejahatan meminum miras dan kemudian melakukan kejahatan lain akibat terpengaruh miras, maka yang berlaku adalah jilid dicambuk 80 kali.

Kedua, untuk kejahatan mengkonsumsi narkoba, maka terhadapnya dijatuhkan sanksi ta'zir yakni berupa 10 kali cambukan, dipenjara 15 tahun, dan didenda sebesar Rp 1 miliar.

Ketiga, untuk kejahatan menewaskan 9 orang maka diterapkan jinayat pembunuhan tidak disengaja yaitu membebaskan budak mukmin dan membayar diyat kepada keluarga korban.

Membebaskan budak mukmin tidak bisa dilakukan sekarang sebab budak sudah tidak ada lagi sehingga yang harus dikenakan adalah wajib membayar diyat.

Diyat itu bisa dibayar dengan unta 100 ekor, atau emas 1.000 dinar (4.250 gram emas) yang jika diasumsikan 1 gr emas harganya Rp 500 ribu maka diyat yang harus dibayarkan untuk tiap orang korban adalah Rp 2,125 miliar.

Sementara untuk janin adalah seper sepuluh dari diyat orang dewasa, yakni Rp 212,5 juta.

Empat, untuk kejahatan menyebabkan 3 orang luka-luka, dilakukan perundingan antara kedua pihak mengenai biaya pengobatan dan ganti rugi. Sanksi dan solusi hukum begitu jelas sehingga tidak menyulitkan bagi aparat penegak hukum dalam menerapkannya.

Selain itu juga merealisasi rasa keadilan bagi semua dan memberikan efek jera yang bisa mencegah orang lain melakukan kejahatan serupa. Itulah tuntunan dan teladan dari Nabi saw terkait kasus tersebut.

Diluar semua itu, yang harus dipahami bahwa salah satu faktor utama terjadinya kasus itu adalah konsumsi miras dan narkoba. Hal itu bisa terjadi tentu karena sistem saat ini tetap mentolerir miras dan narkoba.

Berbeda dengan sistem Islam yang bersikap sangat tegas dengan mengharamkan narkoba serta miras, sehingga baik produksi, peredaran maupun penjualannya dilarang.

Bagi yang melanggarnya berarti melakukan tindakan kriminal dan dikenai sanksi yang bahkan lebih berat dari sanksi orang yang mengkonsumsinya. Dengan sistem Islam yang tegas dan jelas, rasa keadilan akan terwujud dan masyarakat selamat dari ancaman keburukan.

Dan itulah bentuk hakiki dari meneladani Nabi Muhammad saw dalam rangka memperingati kelahirannya yang kita rayakan setiap tahunnya.


Kamila Aziza Rabiula
Mahasiswi Universitas Padjadjaran
Gg. Mawar II No. 36 Jatinangor, Sumedang
arabiula@gmail.com
085320775170

Jakarta - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan tradisi yang sudah kental di kalangan kaum muslim seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali di Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebohongan Yang Indah

Ketika pagi akan menjelang, rerumputan masih terbasahi embun yang memaksa mendinginkan udara pagi di kaki bukit Gunung Slamet. Embun pula yang meneteskan air di dedaunan pohon-pohon hijau. Ayam-ayam berkokok saling bersahutan menandakan kesibukan manusia akan segera dimulai, bagaikan opera alami yang natural. Sebelum bangun, mata ku selalu melirik ke arah jam dinding untuk memastikan benar-benar pagi telah layak untuk disambut. Setiap pagi sebelum azdan berkumandang selalu terdengar rintihan pintu rumah kayu kami ketika dibuka. Kreettt, Bapak membuka pintu sembari berteriak memanggil dan mengajaku untuk pergi bersama sholat berjamaah di mushola tak jauh dari rumah kami. “Royan, bergegaslah ke mushola, bapak tunggu!” “Iya pak, Royan segera menyusul” Sepulang ku dari mushola, aku langsung bergegas membantu ibu ku yang sedang sibuk memasak untuk keperluannya berjualan nasi di depan rumah kami. Ya, aku adalah anak seorang penjual nasi, hidup kami sederhana, tak...

Wiro Sableng #106 : Rahasia Bayi Tergantung

WIRO SABLENG Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito Episode : PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM SATU Dalam rimba belantara di kaki Gunung Labatu Hitam yang biasanya diselimuti kesunyian sekali ini terdengar suara aneh berkepanjangan. Seperti ada seseorang yang tengah mengucapkan atau merapal jampi-jampi tak berkeputusan. "Kau mendengar suara itu wahai tiga saudaraku?" bertanya sosok tinggi besar berewokan yang dua kakinya terbungkus batu besar berbentuk bola. Orang ini adalah Lakasipo, bekas Kepala negeri Latanahsilam yang kemudian dikenal dengan julukan Bola-Bola Iblis alias Hantu Kaki Batu. Seperti diceritakan dalam serial Wiro Sableng sebelumnya, berkat pertolongan Hantu Tangan Empat maka Wiro dan Naga Kuning serta si kakek berjuluk Setan Ngompol sosok tubuhnya berhasil dirubah menjadi lebih besar walau belum mencapai sebesar sosok orang-orang di Negeri Latanahsilam. Karena itulah jika sedang mengadakan perjalanan jauh Lakasipo selalu membawa ke t...

Pancake Buat Tuhan

Brandon bocah berumur 6 tahun. Suatu hari sabtu pagi, dimana biasanya orang tuanya tidak bekerja dan tidur sampai agak siang, Brandon menyiapkan sebuah kejutan. Ia berencana membuat pancake. Ia mengambil sebuah mangkuk besar, sendok, menggeser kursi ke pinggir meja, dan menarik sebuah tupperware berisi tepung yang berat, menumpahkan sebagian isinya ke lantai. Lalu ia mengambil tepung itu dengan tangannya, sebagian berserakan di meja makan, lalu mengaduknya dengan susu dan gula sehingga bekas adonan berceceran di sekelilingnya. Ditambah lagi dengan beberapa telapak kaki kucingnya yang ingin tahu apa yang sedang terjadi. Brandon tampak tertutup dengan tepung dan kelihatan sangat frustasi. Yang dia inginkan hanya membuat sesuatu untuk menyenangkan mama dan papanya. Tapi kelihatannya yang terjadi malah sangat amat buruk. Dia sekarang tidak tahu harus berbuat apa, apakah memasukkan adonan ke dalam oven atau dibakar di perapian. Lagipula dia tidak tahu cara menyalakan api di kompor atau ...